KESENJANGAN BAHASA DI TIGA GENERASI: STUDI EKOLINGUISTIK TERHADAP LEKSIKON DI BIDANG PERTANIAN PADA MASYARAKAT PENUTUR BAHASA BIMA

- Arafiq

Abstract


Masyarakat Bima (Dou Mbojo) merupakan salah satu suku yang mendiami wilayah timur Pulau Sumbawa. Bahasa Bima (Nggahi Mbojo) adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat sebagai alat komunikasi sehari-hari dalam berbagai ranah pemakaian bahasa. dari lingkup terkecil hinga lingkup terbesar. Perubahan sosial yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi dan informasi, menyebabkan perubahan cara berbahasa masyarakat penutur Bahasa Bima, terutama jika dilihat dari kelompok umur penutur. Ada kecenderungan terjadi kesenjangan bahasa, khususnya di bidang pertanian antar tiga generasi yang berbeda, yakni usia 0-39, 40-50, dan 51-keatas. Berdasarkan studi survey melalui media facebook, kelompok penutur umur 0-39 tahun memiliki pengetahuan leksikon pertanian yang sangat terbatas, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif yang terkait benda (rujukan) dari kata tersebut. Sementara itu, penutur kelompok umur 40-50 tahun memiliki tingkat pemahaman yang tinggi, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Sedangkan penutur kelompok umur 50 tahun keatas memiliki pemahaman terhadap semua leksikon yang ditanyakan bahkan bisa menambahkan lebih banyak leksikon beserta penjelasan terkait rujukan kata maupun konteks penggunaannya. Hal ini menunjukkan bahwa telah dan sedang terjadi kesenjangan budaya dan Bahasa dalam masyarakat Bima (Dou Mbojo) seiring perkembangan berbagai bidang kehidupan, terutama teknologi pertanian.

Keywords


Masyarakat Bima (Dou Mbojo); Bahasa Bima (Nggahi Mbojo); Kesenjangan bahasa

Full Text:

PDF

References


Bima Language. https://en.wikipedia.org/wiki/Bima_language#Dialects (accesed in 12 January 2021)

Blust, Robert. 2008. "Is There a Bima-Sumba Subgroup?". Oceanic Linguistics. 47 (1): 45–113. JSTOR 20172340.

Brown, G. & Yule, G. 1996. Analisis Wacana (terj. Soetikno, I). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Craswell, J. W. 2014. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th Edition). Sage Publications, Inc.

Eisenstein, C. 2013. The More Beautiful World Our Hearts Know Is Possible. Berkeley, CA: North Atlantic Books. Ethonologue Language of the world. 2015. “Bima at Ethnologue 18th ed.” (accesed in 12 January 2021)

Halliday, Michael. 2001. “New ways of meaning: Challenge to applied linguistics”. In: A. Fill & P. Muhlhausler (Eds.). The ecolinguistic reader: Language, ecology and environment. London: Continuum Press. Pp. 175-202.

Hammarström, H.; Forkel, R.& Haspelmath, M. eds. 2017. "Bima". Glottolog 3.0” Jena, Germany: Max Planck Institute for the Science of Human History.

Just, P. 2001. Dou Donggo Justice: Conflict and Morality in an Indonesian Society. Oxford: Rowman & Littlefield

Prichard, J. C. 1874. “Researches into the Physical History of Mankind” Volume 5: Containing Researches Into the History of the Oceanic and of the American Nations.London: Sherwood, Gilbert, and Piper. ASIN B0041T3N9G.

Renjaan, Meiksyana. Reinold. 2014. “Leksikon Bahasa Kei dalam Lingkungan Kelautan: Kajian Ekolinguistik” Jurnal Linguistika. Denpasar: Program S2 dan S3 Linguistik Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Stibbe, A. 2015. Ecolinguistics: Language, Ecology, and the Stories We Live By. London and New York: Routledge.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.