BAHASA DAN PENCITRAAN: STRATEGI KEBAHASAAN DALAM WACANA POLITIK

Ni Wayan Sartini

Abstract


Politik adalah masalah kekuasaan, yaitu kekuasaan untuk membuat keputusan, mengendalikan sumber daya, mengendalikan perilaku orang lain dan sering juga mengendalikan nilai-nilai yang dianut orang lain. Bahkan keputusan-keputusan biasa yang dibuat dalam kehidupansehari-hari pun bisa dipandang dari sudut politik. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan strategi-strategi kebahasaan yang digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu khususnya pencitraan dalam budaya politik. Para politisi sangat sadar bahwa salah satu strategi yang ampuh untuk menimbulkan pencitraan adalah dengan bahasa. Analisis wacana kritis dapat membongkar maksud, tujuan, motivasi penggunaan bahasa dalam budaya politik seperti slogan politik, reklame politik, ungkapan-ungkapan dalam konteks politik dan sebagainya. Bahasa dalam wacana politik bertujuan untuk membujuk para pendengar atau warga masyarakat agar percaya pada validitas dari klaim-klaim politisi. Dalam hal ini, bahasa digunakan untuk pencitraan politik. Untuk mencapai tujuan ini para politisi menggunakan strategi linguistik (bahasa) agar terkesan wajar dan masuk akal. Strategi tersebut antara lain strategi implikatur.Implikatur adalah strategi linguistik dalam politik agar pendengar dapat memahami sendiri asumsi-asumsi di balik sebuah informasi tanpa harus mengungkapkan asumsi-asumsi itu secara eksplisit. Strategi linguistik yang lainnya adalah penggunaan eufemisme, gaya bahasa (metafora), leksikalisasi, istilah atau jargon-jargon dan struktur gramatika tertentu.

Keywords


strategi linguistik, politik, pencitraan, wacana kritis.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.